Rabu, 01 April 2015

RETENSIO PLASENTA

BAB I

PENDAHULUAN

A.   LATAR BELAKANG
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjrco9R_tNzR2RrnIUrOnOooSoAEDRWKX0jT68tTn9DfJgpDBcP6KUK-bGFUw_EaVlUmDOOHXWW0Jw3R9EKgaP2KZAGB_gGWAJ5pOIaGp49X9LWm0Kp_dGnvfA9N6aMeBRADg01xa33Mre3/s1600/retainedplacentaremovinghand.jpg
Perdarahan dalam bidang obstetri dan ginekologi hampir selalu berakibat fatal bagi ibu maupun janin, terutama jika tindakan pertolongan terlambat dilakukan, atau jika komponennya tidak dapat segera dilakukan. Oleh karena itu, setiap Perdarahan yang terjadi dalam masa kehamilan, persalinan dan nifas harus dianggap sebagai suatu keadaan akut dan serius.
Perdarahan pascapersalinan adalah kehilangan darah lebih dari 500 ml melalui jalan lahir yang terjadi selama atau setelah persalinan kala III. Perkiraan kehilangan darah biasanya tidak sebanyak yang sebenarnya, kadang-kadang hanya setengah dari yang sebenarnya. Darah tersebut tercampur dengan cairan amnion atau dengan urin. Darah juga tersebar pada spons, handuk, dan kain, di dalam ember dan di lantai. Volume darah yang hilang juga bervariasi akibatnya sesuai dengan kadar hemoglobin ibu. Seseorang ibu dengan kadar hemoglobin normal akan dapat menyesuaikan diri terhadap kehilangan darah yang akan berakibat fatal pada yang anemia.
Perdarahan pascapersalinan adalah sebab penting kematian ibu; ¼ kematian ibu yang disebabkan oleh perdarahan (perdarahan pascapersalinan, placenta previa, solutio plasenta, kehamilan ektopik, abortus, retensio plasenta,rest plasenta dan ruptura uteri) disebabkan oleh perdarahan pascapersalinan. Selain itu, pada keadaan dimana perdarahan pascapersalinan tidak mengakibatkan kematian, kejadian ini sangat mempengaruhi morbiditas nifas karena anemia dapat menurunkan daya tahan tubuh. Perdarahan pascapersalinan lebih sering terjadi pada ibu-ibu di Indonesia dibandingkan dengan ibu-ibu di luar negeri.
Pendarahan yang disebabkan oleh retensio dan rest plasenta dapat terjadi karena plasenta yang  tidak lahir setelah 30 menit setelah bayi lahir dan atau plasenta belum lahir sebagian .
B.   RUMUSAN MASALAH
1.     Apa pengertian dari retensio plasenta dan rest plasenta ?
2.     Apa penyebab retensio plasenta dan rest plasenta?
3.     Apa tanda dan gejala retensio plasenta dan rest plasenta?
4.     Bagaimana penanganan dari retensio plasenta dan rest plasenta
5.     Bagaimana prosedur/ daftar tilik dari rest plasenta dn retensio plasenta ?
C.   TUJUAN
1.     Untuk mengetahui pengertian dari retensio plasenta dan rest plasenta
2.     Untuk mengetahui penyebab retensio plasenta dan rest plasenta
3.     Untuk mengetahui tanda dan gejala retensio plasenta dan rest plasenta
4.     Untuk mengetahui penanganan dari retensio plasenta dan rest plasenta
5.     Untuk mengetahui prosedur/ daftar tilik dari rest plasenta dn retensio plasenta 
BAB II

PEMBAHASAN

A.     PENGERTIAN RETENSIO DAN REST PLASENTA
1.     Retensio Plasenta
Ada beberapa pengertian retensio plasenta yaitu :
a.     Retensio plasenta adalah apabila plasenta belum lahir setangah jam setelah janin lahir(Winkjosastro, 2010 ).
b.     Retensio plasenta adalah belum lepasnya plasenta dengan melebihi waktu setengah jam. Keadaan ini dapat diikuti perdarahan yang banyak, artinya hanya sebagian plasenta yang telah lepas sehingga memerlukan tindakan plasenta manual dengan segera. Bila retensio plasenta tidak diikuti perdarahan maka perlu diperhatikan ada kemungkinan terjadi plasenta adhesive, plasenta akreta, plasenta inkreta, plasenta perkreta. (Manuaba (2006:176).
c.      Retensio plasenta yaitu suatu keadaan dimana plasenta belum lahir dalam waktu setengah jam setelah kelahiran bayi (Djuhadiah S,2012).
d.     Retensio plasenta yaitu kejadian patologi diama selaput fetus tidak keluar dari alatkelamin induknya dalam waktu 1-12 jam setelah kelahiran anaknya (hardjopranjoto,1995).
2.     Rest plasenta
Ada beberapa definisi rest plasenta yaitu :
a.     Rest Plasenta adalah tertinggalnya sisa plasenta dan membranya dalam cavum uteri. (Saifuddin, A.B, 2002)
b.     Rest plasenta merupakan tertinggalnya bagian plasenta dalam uterus yang dapat menimbulkan perdarahan post partum primer atau perdarahan post partum sekunder (Alhamsyah, 2008).
c.      Rest plasenta adalah suatu bagian dari plasenta serta lobus yang tertinggal maka uterus tidak dapat berkontraksi secara efektif (Sarwono, 2002 ; hal 31).
d.     Rest plasenta adalah tertinggalnya sisa plasenta atau selaput janin dan dikeluarkan secara manual atau kuret, disusul dengan pemberian obat intravena (Hanifa, 2000 ; hal 197).
B.   ETIOLOGI RETENSIO DAN REST PLASENTA
1.     Etiologi Retensio Plasenta
Menurut Wiknjosastro (2007) sebab retensio plasenta dibagi menjadi 2 golongan ialah sebab fungsional dan sebab patologi anatomik.
a.     Sebab fungsional 
1)    His yang kurang kuat (sebab utama)
2)    Tempat melekatnya yang kurang menguntungkan (contoh : di sudut tuba)
3)    Ukuran plasenta terlalu kecil
4)    Lingkaran kontriksi pada bagian bawah perut 
b.     Sebab patologi anatomik (perlekatan plasenta yang abnormal)Plasenta belum terlepas dari dinding rahim karena melekat dan tumbuh lebih dalam. Menurut tingkat perlekatannya :
1)    Plasenta adhesiva : plasenta yang melekat pada desidua endometrium lebih dalam.
2)    Plasenta inkreta : vili khorialis tumbuh lebih dalam dan menembus desidua endometrium sampai ke miometrium.
3)    Plasenta akreta : vili khorialis tumbuh menembus miometrium sampai ke serosa.
4)    Plasenta perkreta : vili khorialis tumbuh menembus serosa atau peritoneum dinding rahim.
2.     Etiologi Rest Plasenta 
Ada bebarapa penyebab rest plasenta yaitu :
a.      Pengeluaran plasenta tidak hati-hati
b.      Salah pimpinan kala III : terlalu terburu - buru untuk mempercepat lahirnya plasenta.
C.   TANDA DAN GEJALA RETENSIO PLASENTA DAN REST PLASENTA
1.     Tanda Dan Gejala Retensio Plasenta
Tanda/Gejala
Separasi/ akreta parsial
Plasenta Inkaserata
Plasenta Akreta
Konsistensi Uterus
Kenyal
Keras
Cukup
Tinggi Fundus
Sepusat
2 jari bawah pusat
Sepusat
Bentuk Uterus
Diskoid
Agak Globuler
Diskoid
Perdarahan
Sedang-Banyak
Sedang
Sedikit/tidak ada
Tali Pusat
Terjulur sebagian
Terjulur
Tidak terjulur
Ostium uteri
Terbuka
Konstriksi
Terbuka
Separasi plasenta
Lepas sebagian
Sudah lepas
Melekat seluruhnya
Syok
Sering
Jarang
Jarang sekali
2.     Tanda Dan Gejala Retensio Plasenta
a.       Sewaktu suatu bagian dari plasenta (satu atau lebih lobus) tertinggal, maka uterus tidak dapat berkontraksi secara efektif dan keadaan ini dapat menimbulkan perdarahan. Tetapi mungkin saja pada beberapa keadaan tidak ada perdarahan dengan sisa plasenta. Tertinggalnya sebagian plasenta (rest plasenta)
b.       Keadaan umum lemah
c.        Peningkatan denyut nadi
d.      Tekanan darah menurun
e.       Pernafasan cepat
f.       Gangguan kesadaran (Syok)
g.       Pasien pusing dan gelisah
h.      Tampak sisa plasenta yang belum keluar
D.   PENANGANAN RETENSIO PLASENTA DAN REST PLASENTA
1.     Penanganan Retensio Plasenta
a.       Segera setelah bayi lahir, cek bayi kedua. Setelah dipastikan tidak ada bayi kedua, suntikkan oksitosin 10 IU secara Intra Muskular di 1/3 paha atas lateral.
b.      Lakukan Peregangan Tali Pusat Terkendali (PTT). 15 menit setelah bayi lahir, plasenta belum lahir juga, suntikkan kembali oksitosin dosis kedua 10 IU secara I.M di 1/3 paha atas lateral sebelah lainnya.
c.       Kembali lakukan PTT ulang ketika ada his. 15 menit plasenta belum lahir juga, periksa perdarahan. Jika terdapat perdarahan aktif diagnosa kasus tersebut adalahretensio plasenta. Jika tidak terdapat perdarahan aktif, maka diagnosa kasus tersebut adalah akreta plasenta.
d.      Pasang infus RL 500cc + oksitosin 10 IU drip, 40 TPM. Berikan propenit supp untuk meredakan nyeri. Gunakan sarung tangan ginekologi (sarung tangan panjang).
e.      Regangkan tali pusat dengan tangan kiri, tangan kanan meyusuri tali pusat secara obstetrik masuk kedalam vagina. Setelah tangan kanan sampai di serviks, minta asisten untuk memegang tali pusat, dan tangan kiri penolong berada di fundus.
f.        Tangan kanan terus menyusuri tali pusat hingga bertemu dengan pangkal tali pusat (insersi tali pusat). Buka tangan seperti orang bersalaman dengan ibu jari menempel jari telunjuk.
g.       Carilah bagian plasenta yang sudah terlepas. Lepaskan plasenta dengan cara menyisir mulai dari bagian plasenta yang terlepas dengan sisi ulna (sisi kelingking). Setelah semua plasenta terlepas, bawa plasenta sedikit kedepan.
h.      Tangan kanan kembali kebelakang untuk mengeksplorasi ulang apakah plasenta sudah terlepas semua. Jika teraba licin, berarti plasenta sudah terlepas semua.
i.         Keluarkan plasenta dengan tangan kanan. Tangan kiri pindah diatas supra simpisis untuk menahan agar tidak terjadi inversio uteri.
j.         Setelah plasenta keluar dari uterus, tangan kiri mendorong uterus di atas simpisis kearah dorso kranial untuk mengembalikan posisi uterus ke tempat semula. Setelah plasenta keluar, segera lakukan masase 15 kali searah jarum jam.
2.     Penanganan Rest Plasenta
Apabila diagnosa sisa plasenta ditegakkan maka bidan boleh melakukan pengeluaran sisa plasenta secara manual atau digital, dg langkah-langkah sebagai berikut:
a.   Perbaikan keadaan umum ibu (pasang infus)
b.   Kosongkan kandung kemih
c.   Memakai sarung tangan steril
d.   Desinfeksi genetalia eksterna
e.   Tangan kiri melebarkan genetalia eksterna,tangan kanan dimasukkan secara obstetri sampai servik
f.      lakukan eksplorasi di dalam cavum uteri untuk         mengeluarkan sisa plasenta
g.   lakukan pengeluaran plasenta secara digital
h.   Setelah plasenta keluar semua diberikan injeksi         uterus tonika
i.     Berikan antibiotik utk mencegah infeksi
j.      Antibiotika ampisilin dosis awal 19 IV dilanjutkan dengan 3x1 gram. oral dikombinasikan dngan             metronidazol 1 gr suppositoria dilanjutkan     dengan 3 x 500 mg oral.
k.   Observasi tanda-tanda vital dan perdarahan
l.     Antibiotika dalam dosis pencegahan sebaiknya         diberikan.
E.    DAFTAR TILIK RETENSIO PLASENTA DAN REST PLASENTA
1.      Daftar Tilik Retensio Plasenta
PENUNTUN BELAJAR
RETENSIO  PLASENTA
NO
LANGKAH / TUGAS
KASUS
1
2
3
4
5
Persiapan sebelum indakan :
1.
Pasien :
1.     Cairan dan selang infus sudah terpasang. Perut bawah dan paha sudah dibersihkan
2.     Uji fungsi dan kelengkapan peralatan resusitasi
3.     Menyiapkan kain alas bokong dan penutup perut bawah
4.     Analgetika ( Pethidin 1-2 mg/kg BB /  Ketamin HCl 0,5 mg/kg BB / tramadol 1-2 mg/kg BB
5.     Sedativa ( Diazepam 10 mg )
6.     Uterotonika ( Oksitosin, Ergometrin, Prostaglandin )
7.     Bethadine
8.     Oksigen dan regulator
2.
Penolong :
1.   Celemek, masker, kacamata pelindung, sepatu bot
2.   Sarung tangan panjang DTT / Steil
3.   Instrumen :
·   Klem  : 2 buah
·   Spuit 5 cc dan jarum no. 23  : 4 buah
·   Wadah Plasenta : 1 buah
·   Kateter dan penampung air kemih : 1 buah
·   Heacting set : 1 set
·   Larutan Klorin 0,5 %
Persetujuan tindakan :
3.
Menjelaskan kepada klien tentang prosedur yang akan dilakukan
4.
Mendengarkan keluhan klien
5.
Memberikan dukungan emosional kepada klien
Langkah – langkah tindakan :
8.
Mencuci tangan menggunakan sabun, air mengalir dan keringkan.
9.
Memakai sarung tangan steril
10.
Segera setelah bayi lahir, cek bayi kedua. Setelah dipastikan tidak ada bayi kedua, suntikkan oksitosin 10 IU secara Intra Muskular di 1/3 paha atas lateral.
11.
Lakukan Peregangan Tali Pusat Terkendali (PTT). 15 menit setelah bayi lahir, plasenta belum lahir juga, suntikkan kembali oksitosin dosis kedua 10 IU secara I.M di 1/3 paha atas lateral sebelah lainnya
12.
Kembali lakukan PTT ulang ketika ada his. 15 menit plasenta belum lahir juga, periksa perdarahan. Jika terdapat perdarahan aktif diagnosa kasus tersebut adalahretensio plasenta. Jika tidak terdapat perdarahan aktif, maka diagnosa kasus tersebut adalah akreta plasenta.
13.
Pasang infus RL 500cc + oksitosin 10 IU drip, 40 TPM. Berikan propenit supp untuk meredakan nyeri. Gunakan sarung tangan ginekologi (sarung tangan panjang).
14.
Regangkan tali pusat dengan tangan kiri, tangan kanan meyusuri tali pusat secara obstetrik masuk kedalam vagina. Setelah tangan kanan sampai di serviks, minta asisten untuk memegang tali pusat, dan tangan kiri penolong berada di fundus.
15.
Tangan kanan terus menyusuri tali pusat hingga bertemu dengan pangkal tali pusat (insersi tali pusat). Buka tangan seperti orang bersalaman dengan ibu jari menempel jari telunjuk.
16.
Carilah bagian plasenta yang sudah terlepas. Lepaskan plasenta dengan cara menyisir mulai dari bagian plasenta yang terlepas dengan sisi ulna (sisi kelingking). Setelah semua plasenta terlepas, bawa plasenta sedikit kedepan.
17.
Tangan kanan kembali kebelakang untuk mengeksplorasi ulang apakah plasenta sudah terlepas semua. Jika teraba licin, berarti plasenta sudah terlepas semua.
18.
Keluarkan plasenta dengan tangan kanan. Tangan kiri pindah diatas supra simpisis untuk menahan agar tidak terjadi inversio uteri.
19.
Setelah plasenta keluar dari uterus, tangan kiri mendorong uterus di atas simpisis kearah dorso kranial untuk mengembalikan posisi uterus ke tempat semula. Setelah plasenta keluar, segera lakukan masase 15 kali searah jarum jam.
20.
Memonitor perdarahan pervaginam dam memeriksa tanda-tanda vital :
  setiap 15 menit pada jam pertamasetiap 30 menit pada jam kedua
21.
Meyakinkan bahwa uterus tetap berkontraksi
22.
Buat instruksi pengobatan lanjutan dan hal-hal penting untuk dipantau
23.
Beritahukan kepada ibu dan keluarganya bahwa tindakan telah selesai tetapi ibu masih memerlukan perawatan
24.
Mencuci tangan
25
Dokumentasi















2.      Daftar Tilik Rest Plasenta
PENUNTUN BELAJAR
REST PLASENTA
NO
LANGKAH / TUGAS
KASUS
1
2
3
4
5
Persiapan sebelum indakan :
1.
Pasien :
1.     Cairan dan slang infus sudah terpasang. Perut bawah dan paha sudah dibersihkan.
2.     Antibiotika ampisilin dosis awal 19 IV dilanjutkan dengan 3x1 gram.oral dikombinasikan dngan metronidazol 1 gr suppositoria dilanjutkan     dengan 3x500 mg oral.
3.     antibiotik utk mencegah infeksi
2.
Penolong :
Celemek, masker, kacamata pelindung, sepatu bot, Sarung tangan panjang DTT / Steril
Persetujuan tindakan :
3.
Memberi salam.
4.
Memperkenalkan diri.
5.
Mengatur posisi pasien.
6.
Menjelaskan kepada klien tentang tindakan yang akan dilakukan.
7.
Menjaga privasi klien.
Langkah – langkah tindakan :
8.
Mencuci tangan menggunakan sabun, air mengalir dan keringkan.
9.
Memakai sarung tangan steril
10.
Perbaikan keadaan umum ibu (pasang infus).
11.
Desinfeksi genetalia eksterna.
12.
Kosongkan kandung kemih.
13.
Tangan kiri melebarkan genetalia eksterna,tangan kanan dimasukkan secara obstetri sampai servik
14.
lakukan eksplorasi di dalam cavum uteri untuk mengeluarkan sisa plasenta
15.
lakukan pengeluaran plasenta secara digital
16.
Setelah plasenta keluar semua diberikan injeksi         uterus tonika
17.
Berikan antibiotik utk mencegah infeksi.
18.
Antibiotika ampisilin dosis awal 19 IV dilanjutkan dengan 3x1 gram.oral dikombinasikan dngan metronidazol 1 gr suppositoria dilanjutkan     dengan 3x500 mg oral.
19.
Observasi tanda-tanda vital dan perdarahan.
20.
Antibiotika dalam dosis pencegahan sebaiknya         diberikan.
21.
Rendam tangan dalam larutan clorin.
22.
Lepas sarung tangan secara terbalik
23.
Cuci tangan
24.
dokumentasikan















Tidak ada komentar:

Posting Komentar